Resensi Buku Novel ‘’Tuan Dalang’’ Karya (Dwi Rahayuningsih)





Judul Buku: Tuan Dalang ( Rahasia Hati Seorang sinden Cantik)
Penulis: Dwi Rahayuningsih
Penerbit: DIVA Press
Tahun Terbit: Cetakan Pertama,Maret 2012
Harga : 20.000

Kebahagiaan adalah keadaan yang sering setiap orang inginkan. Bahagia dalam kesetiaan hubungan,  Bahagia dengan wajah cantik, dan bahagia karena ketegaran dalam menjalani kehidupan, setiap orang pasti menginginkannya.
Setiap keindahan memiliki kemulyaan. Akan tetapi kemulyaan yang tampak pada keindahan itu akan hilang jika berada di jalan yang salah. Semurni apapun cinta jika datang pada saat yang tidak tepat, pastilah akan menyiksa dan melukai.

Seperti di kisahkan dalam novel ini. Wijanarko sang dalang muda yang sudah memiliki seorang istri bernama Wijayanti, dan sindennya Kinasih yang sudah memiliki suami pula bernama Hariyadi. Sesaat setelah keduanya melakukan hubungan terlarang. Wijanarko dengan sikapnya yang selalu setia, penyabar, bersungguh-sungguh  dalam menjalani hidup, menyadari bahwa tidak sepantasnya seorang dalang berbuat tindakan yang keji. Sedangkan Kinasih hanya menganggap bahwa perlakuan cinta terlarang tersebut adalah suatu hal yang wajar bagi seseorang yang mengenal cinta. Karena yang di cari kinasih hanyalah kebahagiaan sesaat.

Dengan kehadiran Wijanarko telah membuat hidupnya bisa merasakan kebahagiaan setelah sekian lama pernikahannya dengan Hariyadi berlangsung sangat monoton, karena Hariyadi lebih memilih untuk memntingkan pekerjaan dari pada Kinasih.
Setelah bulat keputusan Wijanarko untuk memutuskan cinta terlarang itu, membuat Kinasih menjadi focus kepada kecantikannya. Segala kebutuhannya dirinya ia adakan. Bahkan Kinasih termakan rayuan untuk menyuntikan silikon ke wajahnya. Karena ia tidak bias berbuat apa-apa lagi akan keputusan Wijanarko.
Novel ini memiliki alur mundur. Sebelum memutuskan cinta terlarang itu Wijanarko bercerita terlebih dahulu tentang masa kecil nya sampai pada kesuksesannya kepada Kinasih, yang berlokasi di tempat makan.

Wijanarko adalah seorang anak petani dan memiliki adik perempuan yang bernama Wijayanti. Keduanya menjadi anak yatim piatu saat Wijanarko berumur lima tahun. Kemudian mereka berdua dirawat oleh paklik dan bukliknya. Saat setelah lama tinggal bersama paklik, Wijanarko membicarakan keinginan nya untuk menjadi seorang dalang karena ia sangat senang sekali kepada pewayangan. Tidak lama kemudian Paklik menyetujui mimpinya itu dan segera di pertumakanlah ia dengan seorang dalang senior yang bernama Ki Maruta sekaligus bertempat tinggal di rumahnya. Saat umur lima belas tahun, Wijanarko bertemu seorang perempuan cantik di rumah Ki Maruta. Ia jatuh cinta kepadanya, tapi dengan keterbatasan nya, Wijanarko merasa malu untuk memilikinya, karena ternyata perempuan itu salah satu anak Ki Maruta yang beristri Sembilan itu.

Dengan keoptimisannya Wijanarko, ia selamat dari godaan cinta kepada Pujawati, ia me
nganggap  rasa cinta yang datang itu hanyalah penunda kesuksesan sementara, agar tidak terlalu cepat dalam pembelajaran pewayangan nya. Dan ia merasa belumlah cukup umur untuk mengungkapkan rasa cintanya pada Pujawati.

Ia melanjutkan perjuangan nya untuk menjadi seorang dalang yang sukses dengan melanjutkan sekolahnya keperguruan tinggi atas dasar perintah Ki Maruta. Dan setelah selesai dari perguruan tinggi, ia langsung kembali kerumah Ki Maruta untuk mengungkapkan perasaannya yang sudah lama ia pendam akan cintanya kepada Pujawati. Menikahlah keduanya dan memisahkan diri dari rumah Ki Maruta.
Wijanarko menceritakan dari awal sampai akhir, sampai akhirnya berpisahlah ia dengan Kinasih

Di tinjau dari kelebihan dan kekurangan dalam novel ini, lebih banyak kelebihan nya. Kelebihannya pengarang mempercantik gaya bahasanya. Menerapkan nilai-nilai positif dengan mengupas hakikat kebahagiaan yang sebenarnya di letakkan pada kedua tokoh Wijanarko dan Kinasih dengan cara yang berbeda. Kemudian pengarang mengupas dengan cantik makna kesetiaan, kesabaran, keteguhan, menepati janji yang di letakkan pada tokoh Wijanarko. Dan mengupas makna keluarga segalanya, kasih saying ibu tak pernah ada habisnya, bersyukur atas pemberian Tuhan yang di letakkan pada tokoh Kinasih.

Kekurangannya hanya terletak pada tokoh dan penokohan. Pengarang tidak terlalu mempertegas tokoh utama, padahal tokoh utama yang di tuliskan di sinopsis lebih condong pada tokoh Kinasih, tapi pada judul lebih pada tokoh Wijanarko dengan kata ‘’ Tuan Dalang’’ dan bertulisan di bawahnya ‘’Rahasia Hati Seorang Sinden Cantik’’. Dan pada penceritaan tokohpun di dala isi novel ini lebih condong pada pengupasan tokoh Wijanarko.

Demikianlah resensi buku novel Tuan Dalang ini, untuk lebih ingin mengetahuinya silahkan pembaca membaca semua isi dalam buku ini.

Comments

Popular posts from this blog

Resensi Buku Novel Tuan Izrail karya Yusuf As Siba’i