Resensi Buku Novel Tuan Izrail karya Yusuf As Siba’i




Judul Buku: Tuan Izrail
Penulis: Yusuf As Siba’i
Penerbit: Navila
Tahun Terbit: 
 Cetakan Pertama, Maret 2002
 Cetakan Kedua, Mei 2002
Jumlah Halaman: 212
Harga: 35.000

Tak bisa dipungkiri, bahwa kematian adalah hal yang menakutkan bagi setiap insan yang bernyawa. Kematian adalah keterbebasan manusia dari penjara kehidupan dunia. Meski sebesar apapun perjuangan untuk menghindar, tetap saja kematian itu lambat laun akan menjemput.

Izrail salah satu malaikat yang di tugaskan untuk mencabut nyawa setiap manusia. Bahkan Izrail di gambarkan sebagai tengkorak yang bengis dan menakutkan bagi sebagian orang . Akan tetapi lain dari itu. Dalam novel ini Siba’i ingin menyatakan bahwa kematian dengan segala bentuknya adalah menyenangkan. Dan Izrail yang menakutkan itu digambarkan sebagai sosok pribadi yang tampan dan halus.

Di ceritakan dalam novel ini. Malaikat Izrail salah mencabut nyawa! Maka rumitlah urusannya. Sebab kekeliruan itu adalah karena kemiripan nama Si Aku dengan nama orang yang seharusnya meninggal. Izrail pun berencana untuk mengembalikan nyawa Si Aku ke bumi. Akan tetapi di tengah perjalanan, Izrail teringat bahwa ia mempunyai janji bertemu dengan Bidadari di surga. Jangan salah, janji pertemuan ini bukanlah seperti janji sepasang kekasih. Pertemuan ini adalah dalam rangka membina hidup bermasyarakat yang harmonis antar warga akhirat.

Novel ini memiliki tokoh dan penokohan. Tokoh Aku memiliki penokohan keras kepala, plin-plan, rasa ingin tahu, berpikir logis, memiliki rasa kemanusiaan yang tinggi, berbuat seenaknya, berotak kotor, gemar memuji kenikmatan dari Allah, dan emosional. Sedangkan Izrail memiliki penokohan bijaksana, sabar, cepat mengambil keputusan, bertanggung jawab, iba, dan pemaaf.

Dengan sikap Izrail yang seperti itu, ia merasa galau karena di samping harus menepati janji dengan Sang Bidadari dan mengembalikan Si Aku ke bumi, ia juga memiliki tugas untuk mencabut nyawa manusia lainnya. Karena merasa kasihan melihat Izrail kebingungan, Si Aku menawarkan diri untuk membantu tugas yang harus diselesaikan Izrail. Ia lalu dipercaya untuk mencabut nyawa manusia yang termasuk ke dalam daftar pencabutan nyawa hari itu. Sebagai “alat tempur”, Izrail membekali Si Aku sebuah tongkat yang berfungsi untuk memerintah nyawa agar keluar dari jasad, sebuah kantong untuk mengumpulkan nyawa- nyawa tersebut, gulungan kertas yang berisi daftar nama target, dan sebuah radio panggil sebagai alat komunikasi antara mereka berdua. Maka sejak saat itu jadilah Si Aku sebagai seorang “asisten” Izrail.

Setelah  di jaikannya si Aku sebagai asisten, dan dengan sikap nya seperti itu. Ternyata Si Aku tergoda untuk tidak menepati janjinya pada Izrail. Baginya, menjadi pencabut nyawa merupakan kesempatan yang tidak boleh disia-siakan. Menurut hemat Si Aku, seharusnya orang-orang yang dicabut nyawanya terlebih dahulu adalah mereka yang tidak dibutuhkan lagi di dunia karena bisanya hanya membuat manusia sengsara, semisal para pemimpin tiran. Adapun orang-orang yang namanya tercantum dalam daftar, mereka tidak bersalah dan harus tetap dibiarkan hidup. Oleh karena itu, ia berencana melakukan berbagai cara untuk menghindarkan mereka dari kematian. Begitulah hakikat kematian menurut Si Aku, harus ada aturan mainnya.

Kemudian si Aku yang tugasnya untuk mentarget pencabutan nyawa setiap orang yang tercantum dalam dafrat, dari target satu sampai target terakhir yaitu seorang lelaki muda, kaya, dan tampan bernama Hasan Qadri. Mobil Porsche yang ia kendarai terbalik karena melaju dalam kecepatan tinggi dan ia tidak memperhatikan jalanan karena malah asyik berkasih-kasihan dengan Fifi, kekasihnya. Fifi tidak meninggal dalam kecelakaan tersebut karena telah masuk daftar cabut dalam kecelakaan lain.
Operasi pencabutan nyawa hari itu tuntas sudah. Izrail pun mengembalikan Si Aku kepada jasadnya yang berada di dalam kubur. Si Aku meminta Izrail untuk mengambilkan pakaian di rumahnya dan membawakan makanan untuknya. Izrail bertanya pada Si Aku apakah ia percaya dengan kehidupannya di dunia. Si Aku terheran-heran dengan pertanyaan Izrail. Lalu ia diberitahu bahwa keluarganya di rumah malah sedang sibuk membicarakan soal polis asuransi dan tuntutan kepada pihak jawatan trem yang menabraknya.

Dengan perasaan sedih Si Aku meminta Izrail untuk membawanya ke langit. Izrail menolak, namun ia berjanji akan memasukkan namanya dalam daftar gelombang pertama yang akan dicabut nyawanya. Sebuah mimpi menyebabkan Si Aku risau untuk benar-benar kembali ke alam akhirat. Ia takut tidak bisa menikmati surga. Oleh karena itulah Izrail kemudian berbaik hati memberi Si Aku waktu dua hari untuk berbuat baik dan jika itu dilakukan ia menjamin Si Aku akan masuk surga. Dua hari kemudian Izrail menemui Si Aku dan mereka terbang ke langit bersama. Tak ada kesedihan dalam diri Si Aku, ia malah merasa lebih nyaman

Kelebihan dari novel ini memiliki nilai kemanusian antara lain: nilai kemanusiaan hubungan manusia dengan Tuhannya, yang mencakup tentang rukun iman, sifat Allah, kematian, seruan amar ma’ruf nahi munkar, dan bersyukur akan nikmat Allah, nilai kemanusiaan hubungan manusia dengan mahluk lain (malaikat), yang mencakup tentang  malaikat pencabut nyawa manusia, pemelihara manusia, dan pengukuh manusia dalam kebaikan, nilai kemanusiaan hubungan manusia dengan sesama manusia, yang mencakup tentang saling berbagi, menegakkan prinsip musyawaroh dan mufakat, hubungan dalam keluarga, dan membantu orang yang membutuhkan, nilai kemanusiaan hubungan manusia dengan dirinya sendiri, yang mencakup tentang percaya diri, pengakuan diri atas ketidaktahuan, pengendalian diri, teringat akan kenangan, rasa takut, perasaan tidak suka menggunjing, introspeksi diri, tidak mudah putus asa, dan menerima nasihat baik, nilai kemanusiaan hubungan manusia dengan alam, yang mencakup tentang kerinduan pada tempat masa kecil.

Selain itu gaya penulisan Siba’I dalam novel ini penuh dengan satire dan kritik social yang sangat keras akan krisis moral yang dialami ana mnusia. Dari masalah rakyat jelata, hingga para pemimpin umat. Dari pedagang kaki lima sampai konglomerat. Para kyai, penulis dan intelektual pun tak luput dari satire Siba’i

Dan adapun sedikit kekurangan nya yaitu terletak pada kemasan penjilidan buku yang kurang menarik perhatian pembaca. Juga Bahasa yang agak seikit rumit untuk di fahami oleh pembaca awam.
Demikianlah resensi buku novel ini penulis suguhkan kepada para pembaca. Agar pembaca lebih semangat  dan bisa memahami buku ini.

Comments

Post a Comment

Popular posts from this blog

Resensi Buku Novel ‘’Tuan Dalang’’ Karya (Dwi Rahayuningsih)